Oleh Dadang Kusnandar
BERBAGAI cara penyampaian kata-kata, ekspresi, dan ajakan saling memaafkan tertata merangkai kalimat indah pada sms yang saling bertukar sesama saudara dan teman menjelang lebaran idul fitri 1430 H. Idul fitri dan ramadhan terus berulang, begitu juga kata maaf. Agaknya ada pengulangan yang diam-diam kita sukai: idul fitri yang boleh makan minum di siang hari dan menerima/ memberi maaf lantaran kita suka berbuat salah. Idul fitri yang diterakan dengan kesucian insan yang telah sebulan melaksanakan puasa , tarawih, tadarus, dzikir, shadakoh, dan zakat harta --mengingatkan kita tentang satu hal. Yakni ketekunan pada urusan ukhrawi tetap harus dilengkapi dengan urusan duniawi.
Urusan bermanja-manja dengan Tuhan juga harus ditutup dengan kepedulian kepada orang lain. Ibadah di bulan ramadhan ternyata disudahi oleh penunaian zakat fitrah dan zakat harta. Puasa tahun 2009 yang didera suhu bumi yang terus naik, pada akhirnya adalah kepedulian kepada orang lain. Zakat yang kita keluarkan sebagai ibadah sosial senantiasa ingatkan pada distribusi kekayaan warga negara, yang mestinya diatur oleh negara. Zakat dalam pengertian ini adalah empati kita melihat ketimpangan sosial ekonomi dan buruknya distribusi kekayaan negara bagi warganya sendiri. Zakat dan distribusi kekayaan tak pelak jadi bagian penting manifestasi ibadah sepanjang bulan ramadhan.
Distribusi kekayaan negara dalam relasi ini adalah pemenuhan hak-hak dasar rakyat oleh negara: pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik yang manusiawi. Pemenuhan hak-hak dasar itu pun harus disertai oleh ketepatan alokasi dana rakyat yang terhimpun dalam APBN. Pendidikan, kesehatan dan pelayanan publik merupakan tugas utama negara kepada seluruh rakyatnya. Artinya jika negara tidak mampu menyediakan pelayanan publik yang manusiawi dalam hal pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan sebagainya maka negara telah gagal melaksanakan tugasnya sebagai pelayan publik. Kegagalan yang terus berulang ini semestinya berakhir karena tiap tahun selalu bertemu dengan bulan ramadhan yang mengajarkan kesalehan dan kearifan sosial. Dengan kata lain belajar dari ramadhan, terutama distribusi zakat harta di ujung ramadhan, pemerintah dapat mempeljari sistem zakat ini bagi kepentingan warga negara.
Jika ratusan tahun silam saja pemerintahan/ khilafah islamiyah telah mampu melaksanakan distribusi kekayaan negara kepada seluruh warganya, sungguh tepat jikalau ide dasar ini diadopsi, dikembangkan dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat indonesia. Angka kemiskinan yang masih membuat kita giris, dalam hitungan puluhan juta orang dan puluhan persen dari jumlah rakyat, seharusnya dapat segera tertangani apabila didukung kebijakan publik untuk segera keluar dari kemelut kemiskinan. Apabila seluruh pejabat negara TIDAK menghamba kepada pemenuhan finansial dirinya, dan apabila pemerintah mengajak warga negaranya untuk sama-sama menjadi kaya raya menikmati kekayaan indonesia yang melimpah itu.
Di sisi lain juga harus ada political will kepala negara dan kepala daerah untuk membatasi penggunaan anggaran bagi kebutuhan sekunder. Pada contoh sederhana, pejabat yang telah memiliki kendaraan pribadi tidak harus menerima kendaraan dinas. Demikian pula halnya dengan rumah dinas dan sebagainya. Kita sungguh terperangah ketika mendengar pemda di indonesia menjual mobil dinas kepada pejabat yang telah menggunakan kendaraan tersebut dengan harga murah. Dan dalam waktu tak lama pemda membeli lagi kendaraan-kendaraan dinas bagi pejabat baru. Apresiasi atas kerja pejabat bukan diukur oleh pembelian sejumlah benda, melainkan penghargaan atas karya nyata. Artinya jikalau sang pejabat tidak menunjukkan prestasi apa pun selama masa kerjanya, maka buat apa diberi sejumlah benda; terlebih bila ia pun sudah memiliki benda yang sama.
Redistribusi kekayaan negara dapat dilakukan melalui langkah berani kepala daerah untuk memangkas dana-dana rakyat bagi pos-pos yang tidak simultan bagi penanganan kemiskinan rakyat. Belajar dari sepenggal kisah Jendral Sudirman yang menolak makan semangkok sup ayam sementara anak buahnya mengkonsumsi ubi, padahal beliau tengah sakit -- adalah bentuk kepemimpinan seorang yang mau sama-sama merasakan keprihatinan bersama. Zakat dan atau pajak maupun retribusi rakyat seharusnya mampu mengurangi jumlah kaum miskin di indonesia. Sungguh sulit dibayangkan bila suatu saat orang miskin berkata: kami tidak butuh harta kalian, kami ingin darah kalian! Inilah kejadian yang mengilhami penyerbuan Penjara Bastille menjelang Reolusi Prancis yang monumental itu.
Orang miskin sesungguhnya tidak menuntut banyak kepada negara, kecuali kemudahan perolehan hak-haknya sebagai warga negara. Kaum miskin yang terus menerus jadi objek itu mestinya dipulihkan dari ketertinggalannya. Untuk kaum miskin tidak ada yang lebih berharga selain wujud Undang-undang dan peraturan daerah yang berpihak kepada publik. Mereka hanya ingin agar pengelolaan kekayaan indonesia itu tidak cuma berputar pada golongan tertentu alias para penjarah keringat rakyat yang dikabarkan bekerja untuk rakyat miskin. Kaum miskin menghendaki perubahan yang secara serentak dapat mengakhiri kemiskinan mereka.
Sekali lagi jikalau pemerintah secara tepat melaksanakan pembangunan karakter bangsa, dalam pandangan saya harus diawali dari penggunaan APBN dan APBD yang tepat sasaran. Bukan memoles bangunan mentereng tapi dinyatakan membangun/ merenovasi dengan mark up harga yang nilainya besar. Bukan mengatakan membangun bila hanya tambal sulam sejumlah bangunan negara.
Kembali ke soal awal, distribusi zakat harta yang kerap dilaksanakan pada akhir ramadhan akan jadi lebih bermakna apabila dikombinasikan dengan pengelolaan keuangan negara yang tidak menyakiti perasaan publik. Terutama perasaan kaum miskin dan tertindas.***
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 September 2012
Selasa, 05 Juli 2011
Tidak Ada NII Sejak 7 Juni 1962
DIALOG INTERAKTIF
MAJELIS TARJIH DAN TAJDID
PDM KOTA CIREBON
“MENYIKAPI EKSISTENSI NEGARA ISLAM INDONESIA DI KOTA CIREBON”
PEMBICARA :
KH . M. SHOLEHUDIN (PELAKU SEJARAH)
AKBP A. EDI SUHERI, SIK(KAPOLRESTA CIREBON)
LETKOL. ARH. EDDY WIDIYANTO, SIP (DANDIM 0614)
MODERATOR : SUNARDI, SAg
PENCATAT : DADANG KUSNANDAR
LOKASI DISKUSI :
AKBID MUHAMMADIYAH CIREBON, MINGGU 3 JULI 2011
Acara diawali pembacaan ayat suci Qur`an oleh Ustadz Buldan.
Sambutan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kota Cirebon, Azis Fachrudin.
Ini merupakan kegiatan pertama kepengurusan Majelis Tarjih periode 2011 – 2016 dengan tema NII, kegiatan ini penting untuk meredam anak-anak kita agar tidak terseret ke dalam aktivitas yang kontraproduktif. Padahal sejak 1963 NII sudah kembali ke NKRI.
Sambutan Ketua PDM Drs. H. Kosasih Natawijaya
Ketua PDM menyampaikan sikap kenegarawanan dan sikap kebangsaan Muhammadiyah secara tertulis dan dibagikan kepada hadirin agar tidak keliru mengangkat tema yang sensitif ini.
Staf Ahli Walikota Cirebon, Ir. Budi menyampaikan sambutan singkat mewakili Walikota Cirebon.
DIALOG INTERAKTIF
KH. M. Sholehudin mantan laskar NII dibawah pimpinan SM Kartosuwiryo.
Ki Soleh lahir di Losari Lor yang kini bernama Desa Mulyasari 7 Desember 1931, orang tuanya sangat anti Belanda, menjadi santri di Pemalang dalam asuhan Kiai Makmuri pra kemerdekaan dan menjadi anggota Hizbullah. Setelah merdeka, dan Belanda melakukan Agresi Militer I. Hizbullah (Badan Keamanan Rakyat) bersatu dengan TNI melawan Belanda. Hijrah ke Yogya membawa bendera putih sebagai tanda menyerah. Menurut Bung Tomo, SM Kartosuwiryo memperoleh restu Jendral Sudirman untuk mengamankan Jawa Barat. Buku putih tulisan Bung Tomo (seorang tokoh penting Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya) menyebabkan beliau ditahan pemerintahan Soeharto tahun 1977.
Haidar menulis buku Pemikiran Proklamator Negara Islam Indonesia berdasar skripsi S1 nya di UI. Di Jawa Barat pada saat itu juga terjadi pembantaian 40 ribu orang oleh Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di bawah pimpinan Westerling yang lantas lari ke Sulawesi Selatan. Juga ada pemberontakan BSA (Barisan Sakit Ati) dari pasukan tentara. Agus Abdullah dari Cirebon berpangkat Brigjen sebagai Komandemen Panglima Wilayah Besar (KPWB) Jawa Madura dan berkedudukan di Madura.
Ki Soleh ditugaskan membawa surat kepada Jend. AH. Nasution, ketemu Kolonel Muhammad yang mengatakan semua pengamanan diserahkan kepada Kolonel Ibrahim Aji. Ibrahim menulis radiogram kepada Agus Abdullah. KPW semuanya berasal dari Cirebon, dan tidak ada Komandemen Wilayah IX (KW 9). Gunung Puyuh di Sukabumi, di Ciamis ada Ateng Jaelani. Strategi Ibrahim Aji berhasil dengan Operasi Pagar Betis sehingga pasukan NII dapat diturunkan dari persembunyiannya di gunung. Sejak 7 Juni 1962 NII sudah tidak ada, Kartosuwiryo dieksekusi. Secara eksplisit Ki Soleh mengatakan, “ NII yang ada sekarang tidak lain hanyalah maling, nyolong, dan perampok”.
Pelajari sejarah, bahkan Nabi Muhammad saw berperang karena didzalimi. Kartosuwiryo menuntut hak karena tidak ada pemerintahan syah pada 7 Agustus 1949 mendirikan NII, saat itu yang ada adalah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dibawah pimpinan Mr. Syafruddin Prawiranegara di Bukit Tinggi. PDRI pun dikenal dengan Pemerintah Repubik Indonesia Serikat.
Sardjono putra Kartosuwiryo kini tinggal di Pejaten Jakarta Selatan, ia sangat kecewa melihat NII sebagaimana diberitakan media cetak elektronik. Dalam perjalanan berikutnya, Ki Soleh pernah ditugaskan TNI mengawasi orang-orang PKI di Wilayah III Cirebon dan mendapat honor, ia kerjasama dengan Letnan Rosidi Kadugede Kuningan. Paska 1965, Ibrahim Aji diganti HR Dharsono.
Opsus yang dipimpin Kol. Ali Murtopo tahun 1971 memanggil mantan DI untuk masuk Golkar, yang menolak menjadi Komando Jihad (Komji). Maka Komji buatan Ali Murtopo itulah yang menggerakkan “NII” hingga kini. Pesantren Al Zaitun di Haurgeulis sesat karena menghalalkan segara cara untuk mencapai tujuan.
Drs. Sutisna, MH. MSi Kabag Perencanaan Polresta Cirebon mewakili Kapolresta.
Pasal 13 UU No.2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara, tugas pokok kepolisian: Kamtibmas, Penegakkan Hukum, Memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Nilai-nilai Pancasila sudah tidak dipahami oleh siswa sekolah, pelajaran PMP sudah tidak ada lagi. GBHN, Tap MPR yang digunakan pemerintah Orba meredam tindakan korupsi di tingkat propinsi. Susunan Perundang-undangan: UUD 45, Tap MPR, Batang Tubuh, Aturan Main perundangan, Perundang-undangan. Hingga kini ada 166 perundang-undangan.
HAM sudah dikodifikasikan dalam Qur`at Al Kafirun, “lakum dinukum waliyadin”. Keadilan di Negara kita belum ada. Jangan sampai tertarik kepada ajaran sesat karena diiming-imingi uang dan janji. Sampai sekarang saya bertugas di Cirebon, saya tidak menemukan anggota NII. Kalau ada, laporkan saja ke Kodim atau Polresta karena itu membahayakan Negara. Siapa pun yang ingin mendirikan Negara di dalam Negara berarti makar.
Lukmansyah, Kasdim 0614 mewakili Dandim
Kegiatan makar di Indonesia: GAM yang dipimpin Abu Daud Beureuh dsb. Sesama anak bangsa jangan sampai terjadi perang. Negara adalah kewajiban seluruh bangsa, TNI hanya menjembatani melaksanakan pendidikan bela Negara di pesantren-pesantren Kabupaten Cirebon. Dalam waktu dekat Kodim akan melakukan hal yang sama pesantren Kota Cirebon. Keberadaan NII adalah makar dan sangat dilarang karena tidak disahkan oleh pemerintah.
Dialog dengan hadirin :
1. Ahmad Syubbanuddin Alwy, penyair dan budayawan
Buku berjudul NII, Jet Lee, Salafi di Indonesia karya Solehudin.
Negara tidak mengambil spirit kultur dalam format pembentukan negara, ini yang sering tidak dilakukan oleh para petinggi Negara. Hendropriyono pasti tahu di mana lokasi teroris tapi karena tidak jujur , maka sepertinya selalu ada terorisme di Indonesia. Polri dan TNI tidak segera bertindak menangani masalah korupsi, berbeda dengan jika menangani soal korupsi. Jadikan politik sebagai sub mainstream Negara. Jangan-jangan negara tidak sungguh-sungguh mendata persoalan dengan resistensi politik. Gerakan separatis muncul karena pemerintah gagal mengelola SDA kita.
2. Nurudin, mahasiswa
NII ada di Kota Cirebon, gerakannya tidak menamakan NII secara langsung. Banyak mahasiswa yang diba`iat oleh seseorang. Panji Gumilang sering mengundang mahasiswa diskusi NII di Al Zaitun.
3. Asmuni, Paska Sarjana IAIN Cirebon
Negara dalam negara adalah maker. Siapa pun yang menentang pemerintah syah namanya pemberontak. NKRI sudah final. Munculnya pemberontakan pertama dilakukan oleh Qobil anak Nabi Adam as.
4. Muhyidin, Anshor Kab. Cirebon
Banyak selebaran, spanduk di mesjid Cirebon yang isinya keras. Di mana polisi dan tentara? NKRI harga mati karena para pendiri bangsa mengejawantahkan Piagam Madinah. 49% siswa di Indonesia menyukai kekerasan dan tidak mengenal NU/ Muhammadiyah.
5. Anas, Pemuda Muhammadiyah Kab. Cirebon
Aparat tidak bertindak dengan adanya penyimpangan yang terus terjadi. 29 OKP yang ada di Cirebon yang sering mengatakan sebagai pembela NKRI ternyata sering bertindak tidak sesuai.
6. PC NU Kab. Cirebon
Dialog interaktif jangan hanya jadi wacana, terpenting aparat bertindak. Ketika ada gerakan makar maka segera ditindaklanjuti. Pemerintah harus mengetahui apa dan bagaimana NII setelah itu publikasikan kepada masyarakat.
Renungan
Sebulan sebelum dialog interaktif digelar, saya bersama tiga teman mendengar kisah di atas di rumah sederhana Ki Soleh di Desa Pegagan Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon. Sekira tiga minggu pra dialog itu, saya mengirim pesan pendek kepada sejarawan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Isinya: Benarkah Kartosuwiryo memperoleh restu Jendral Sudirman untuk mendirikan NII? Dan benarkah Hijrah tentara dari Jawa Barat ke Yogyakarta menunggang kereta api pada 1949 mengibarkan bendera putih sebagai tanda RI menyerah kepada Belanda, sehingga Bung Karno dan Bung Hatta ditahan di Yogya? Lalu apakah inisiatif Syafruddin Prawiranegara mendirikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukit Tinggi Sumatra Barat, merupakan bukti ketiadaan pemerintahan RI? Hal ini terbukti dengan tidak adanya selembar kertas resmi penunjukkan dari Bung Karno dan Bung Hatta kepada Syafruddin Prawiranegara. Dan jika sudah demikian, bagaimana keabsahan NII yang didirikan SM Kartosuwiryo di Gunung Tjupu Jawa Barat pada 7 Agustus 1949 lalu?
Sayang sekali pesan pendek yang terjebak menjadi pesan panjang itu tidak dijawab sampai sekarang. Agaknya perlu kajian mendalam membincangkan soal krusial ini. Ataukah memang Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia mempunyai versi sejarah sendiri demi pengukuhan eksistensinya? Wallahu `alam. Akan tetapi Ki Soleh dengan ingatan yang masih kuat di usianya yang mencapai 80 tahun itu, meneruskan kenangannya: Atas lobi internasional yang dimiliki NII, katanya, di PBB telah disediakan kursi bagi Negara Islam Indonesia (NII). Peranyaan yang mengemuka, “Kenapa Pengakuan Kedaulatan Belanda terhadap Republik Indonesia pada 27 Desember 1949 jusrtu kembali ke tangan Bung Karno dan Bung Hatta? Bukan kepada Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia Mr. Syafruddin Prawiranegara?”. Saya jadi teringat pada majalah Islam yang terbit di Jakarta awal 1990 lalu ketika menulis laporan utama yang bertajuk “Presiden Yang Terlupakan: Syafruddin Prawiranegara”.
Bila penuturan Ki Soleh benar adanya, tidak dapat dibayangkan bagaimana sebenarnya penulisan dan kisah sejarah Indonesia diturunkan hingga sampai kepada kita sekarang? Seandainya kita sebagai bangsa ragu terhadap sejarah bangsanya, bagaimanakah lagi untuk anak keturunan kita kelak kemudian hari?
Dengan demikian, masih adakah faktor lupa dalam pembentukan bangsa? Lupa sebagai satu-satunya alas an masuk akal manakala sejarah ditulis berdasarkan ingatan semata. Fakta dan data yang sudah terkubur puluhan tahun, jelas menjadi kendala utama tidak diperolehnya objektivitas sejarah.
Satu hal yang menarik dari penuturan Ki Soleh tertuang pada judul tulisan ini. Bahwa NII sudah bubar sejak 7 Juni 1962. Dan NII sekarang hanyalah maling, nyolong dan rampok.***
MAJELIS TARJIH DAN TAJDID
PDM KOTA CIREBON
“MENYIKAPI EKSISTENSI NEGARA ISLAM INDONESIA DI KOTA CIREBON”
PEMBICARA :
KH . M. SHOLEHUDIN (PELAKU SEJARAH)
AKBP A. EDI SUHERI, SIK(KAPOLRESTA CIREBON)
LETKOL. ARH. EDDY WIDIYANTO, SIP (DANDIM 0614)
MODERATOR : SUNARDI, SAg
PENCATAT : DADANG KUSNANDAR
LOKASI DISKUSI :
AKBID MUHAMMADIYAH CIREBON, MINGGU 3 JULI 2011
Acara diawali pembacaan ayat suci Qur`an oleh Ustadz Buldan.
Sambutan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kota Cirebon, Azis Fachrudin.
Ini merupakan kegiatan pertama kepengurusan Majelis Tarjih periode 2011 – 2016 dengan tema NII, kegiatan ini penting untuk meredam anak-anak kita agar tidak terseret ke dalam aktivitas yang kontraproduktif. Padahal sejak 1963 NII sudah kembali ke NKRI.
Sambutan Ketua PDM Drs. H. Kosasih Natawijaya
Ketua PDM menyampaikan sikap kenegarawanan dan sikap kebangsaan Muhammadiyah secara tertulis dan dibagikan kepada hadirin agar tidak keliru mengangkat tema yang sensitif ini.
Staf Ahli Walikota Cirebon, Ir. Budi menyampaikan sambutan singkat mewakili Walikota Cirebon.
DIALOG INTERAKTIF
KH. M. Sholehudin mantan laskar NII dibawah pimpinan SM Kartosuwiryo.
Ki Soleh lahir di Losari Lor yang kini bernama Desa Mulyasari 7 Desember 1931, orang tuanya sangat anti Belanda, menjadi santri di Pemalang dalam asuhan Kiai Makmuri pra kemerdekaan dan menjadi anggota Hizbullah. Setelah merdeka, dan Belanda melakukan Agresi Militer I. Hizbullah (Badan Keamanan Rakyat) bersatu dengan TNI melawan Belanda. Hijrah ke Yogya membawa bendera putih sebagai tanda menyerah. Menurut Bung Tomo, SM Kartosuwiryo memperoleh restu Jendral Sudirman untuk mengamankan Jawa Barat. Buku putih tulisan Bung Tomo (seorang tokoh penting Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya) menyebabkan beliau ditahan pemerintahan Soeharto tahun 1977.
Haidar menulis buku Pemikiran Proklamator Negara Islam Indonesia berdasar skripsi S1 nya di UI. Di Jawa Barat pada saat itu juga terjadi pembantaian 40 ribu orang oleh Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di bawah pimpinan Westerling yang lantas lari ke Sulawesi Selatan. Juga ada pemberontakan BSA (Barisan Sakit Ati) dari pasukan tentara. Agus Abdullah dari Cirebon berpangkat Brigjen sebagai Komandemen Panglima Wilayah Besar (KPWB) Jawa Madura dan berkedudukan di Madura.
Ki Soleh ditugaskan membawa surat kepada Jend. AH. Nasution, ketemu Kolonel Muhammad yang mengatakan semua pengamanan diserahkan kepada Kolonel Ibrahim Aji. Ibrahim menulis radiogram kepada Agus Abdullah. KPW semuanya berasal dari Cirebon, dan tidak ada Komandemen Wilayah IX (KW 9). Gunung Puyuh di Sukabumi, di Ciamis ada Ateng Jaelani. Strategi Ibrahim Aji berhasil dengan Operasi Pagar Betis sehingga pasukan NII dapat diturunkan dari persembunyiannya di gunung. Sejak 7 Juni 1962 NII sudah tidak ada, Kartosuwiryo dieksekusi. Secara eksplisit Ki Soleh mengatakan, “ NII yang ada sekarang tidak lain hanyalah maling, nyolong, dan perampok”.
Pelajari sejarah, bahkan Nabi Muhammad saw berperang karena didzalimi. Kartosuwiryo menuntut hak karena tidak ada pemerintahan syah pada 7 Agustus 1949 mendirikan NII, saat itu yang ada adalah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dibawah pimpinan Mr. Syafruddin Prawiranegara di Bukit Tinggi. PDRI pun dikenal dengan Pemerintah Repubik Indonesia Serikat.
Sardjono putra Kartosuwiryo kini tinggal di Pejaten Jakarta Selatan, ia sangat kecewa melihat NII sebagaimana diberitakan media cetak elektronik. Dalam perjalanan berikutnya, Ki Soleh pernah ditugaskan TNI mengawasi orang-orang PKI di Wilayah III Cirebon dan mendapat honor, ia kerjasama dengan Letnan Rosidi Kadugede Kuningan. Paska 1965, Ibrahim Aji diganti HR Dharsono.
Opsus yang dipimpin Kol. Ali Murtopo tahun 1971 memanggil mantan DI untuk masuk Golkar, yang menolak menjadi Komando Jihad (Komji). Maka Komji buatan Ali Murtopo itulah yang menggerakkan “NII” hingga kini. Pesantren Al Zaitun di Haurgeulis sesat karena menghalalkan segara cara untuk mencapai tujuan.
Drs. Sutisna, MH. MSi Kabag Perencanaan Polresta Cirebon mewakili Kapolresta.
Pasal 13 UU No.2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara, tugas pokok kepolisian: Kamtibmas, Penegakkan Hukum, Memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Nilai-nilai Pancasila sudah tidak dipahami oleh siswa sekolah, pelajaran PMP sudah tidak ada lagi. GBHN, Tap MPR yang digunakan pemerintah Orba meredam tindakan korupsi di tingkat propinsi. Susunan Perundang-undangan: UUD 45, Tap MPR, Batang Tubuh, Aturan Main perundangan, Perundang-undangan. Hingga kini ada 166 perundang-undangan.
HAM sudah dikodifikasikan dalam Qur`at Al Kafirun, “lakum dinukum waliyadin”. Keadilan di Negara kita belum ada. Jangan sampai tertarik kepada ajaran sesat karena diiming-imingi uang dan janji. Sampai sekarang saya bertugas di Cirebon, saya tidak menemukan anggota NII. Kalau ada, laporkan saja ke Kodim atau Polresta karena itu membahayakan Negara. Siapa pun yang ingin mendirikan Negara di dalam Negara berarti makar.
Lukmansyah, Kasdim 0614 mewakili Dandim
Kegiatan makar di Indonesia: GAM yang dipimpin Abu Daud Beureuh dsb. Sesama anak bangsa jangan sampai terjadi perang. Negara adalah kewajiban seluruh bangsa, TNI hanya menjembatani melaksanakan pendidikan bela Negara di pesantren-pesantren Kabupaten Cirebon. Dalam waktu dekat Kodim akan melakukan hal yang sama pesantren Kota Cirebon. Keberadaan NII adalah makar dan sangat dilarang karena tidak disahkan oleh pemerintah.
Dialog dengan hadirin :
1. Ahmad Syubbanuddin Alwy, penyair dan budayawan
Buku berjudul NII, Jet Lee, Salafi di Indonesia karya Solehudin.
Negara tidak mengambil spirit kultur dalam format pembentukan negara, ini yang sering tidak dilakukan oleh para petinggi Negara. Hendropriyono pasti tahu di mana lokasi teroris tapi karena tidak jujur , maka sepertinya selalu ada terorisme di Indonesia. Polri dan TNI tidak segera bertindak menangani masalah korupsi, berbeda dengan jika menangani soal korupsi. Jadikan politik sebagai sub mainstream Negara. Jangan-jangan negara tidak sungguh-sungguh mendata persoalan dengan resistensi politik. Gerakan separatis muncul karena pemerintah gagal mengelola SDA kita.
2. Nurudin, mahasiswa
NII ada di Kota Cirebon, gerakannya tidak menamakan NII secara langsung. Banyak mahasiswa yang diba`iat oleh seseorang. Panji Gumilang sering mengundang mahasiswa diskusi NII di Al Zaitun.
3. Asmuni, Paska Sarjana IAIN Cirebon
Negara dalam negara adalah maker. Siapa pun yang menentang pemerintah syah namanya pemberontak. NKRI sudah final. Munculnya pemberontakan pertama dilakukan oleh Qobil anak Nabi Adam as.
4. Muhyidin, Anshor Kab. Cirebon
Banyak selebaran, spanduk di mesjid Cirebon yang isinya keras. Di mana polisi dan tentara? NKRI harga mati karena para pendiri bangsa mengejawantahkan Piagam Madinah. 49% siswa di Indonesia menyukai kekerasan dan tidak mengenal NU/ Muhammadiyah.
5. Anas, Pemuda Muhammadiyah Kab. Cirebon
Aparat tidak bertindak dengan adanya penyimpangan yang terus terjadi. 29 OKP yang ada di Cirebon yang sering mengatakan sebagai pembela NKRI ternyata sering bertindak tidak sesuai.
6. PC NU Kab. Cirebon
Dialog interaktif jangan hanya jadi wacana, terpenting aparat bertindak. Ketika ada gerakan makar maka segera ditindaklanjuti. Pemerintah harus mengetahui apa dan bagaimana NII setelah itu publikasikan kepada masyarakat.
Renungan
Sebulan sebelum dialog interaktif digelar, saya bersama tiga teman mendengar kisah di atas di rumah sederhana Ki Soleh di Desa Pegagan Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon. Sekira tiga minggu pra dialog itu, saya mengirim pesan pendek kepada sejarawan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Isinya: Benarkah Kartosuwiryo memperoleh restu Jendral Sudirman untuk mendirikan NII? Dan benarkah Hijrah tentara dari Jawa Barat ke Yogyakarta menunggang kereta api pada 1949 mengibarkan bendera putih sebagai tanda RI menyerah kepada Belanda, sehingga Bung Karno dan Bung Hatta ditahan di Yogya? Lalu apakah inisiatif Syafruddin Prawiranegara mendirikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukit Tinggi Sumatra Barat, merupakan bukti ketiadaan pemerintahan RI? Hal ini terbukti dengan tidak adanya selembar kertas resmi penunjukkan dari Bung Karno dan Bung Hatta kepada Syafruddin Prawiranegara. Dan jika sudah demikian, bagaimana keabsahan NII yang didirikan SM Kartosuwiryo di Gunung Tjupu Jawa Barat pada 7 Agustus 1949 lalu?
Sayang sekali pesan pendek yang terjebak menjadi pesan panjang itu tidak dijawab sampai sekarang. Agaknya perlu kajian mendalam membincangkan soal krusial ini. Ataukah memang Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia mempunyai versi sejarah sendiri demi pengukuhan eksistensinya? Wallahu `alam. Akan tetapi Ki Soleh dengan ingatan yang masih kuat di usianya yang mencapai 80 tahun itu, meneruskan kenangannya: Atas lobi internasional yang dimiliki NII, katanya, di PBB telah disediakan kursi bagi Negara Islam Indonesia (NII). Peranyaan yang mengemuka, “Kenapa Pengakuan Kedaulatan Belanda terhadap Republik Indonesia pada 27 Desember 1949 jusrtu kembali ke tangan Bung Karno dan Bung Hatta? Bukan kepada Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia Mr. Syafruddin Prawiranegara?”. Saya jadi teringat pada majalah Islam yang terbit di Jakarta awal 1990 lalu ketika menulis laporan utama yang bertajuk “Presiden Yang Terlupakan: Syafruddin Prawiranegara”.
Bila penuturan Ki Soleh benar adanya, tidak dapat dibayangkan bagaimana sebenarnya penulisan dan kisah sejarah Indonesia diturunkan hingga sampai kepada kita sekarang? Seandainya kita sebagai bangsa ragu terhadap sejarah bangsanya, bagaimanakah lagi untuk anak keturunan kita kelak kemudian hari?
Dengan demikian, masih adakah faktor lupa dalam pembentukan bangsa? Lupa sebagai satu-satunya alas an masuk akal manakala sejarah ditulis berdasarkan ingatan semata. Fakta dan data yang sudah terkubur puluhan tahun, jelas menjadi kendala utama tidak diperolehnya objektivitas sejarah.
Satu hal yang menarik dari penuturan Ki Soleh tertuang pada judul tulisan ini. Bahwa NII sudah bubar sejak 7 Juni 1962. Dan NII sekarang hanyalah maling, nyolong dan rampok.***
Jumat, 01 Oktober 2010
Pacar Merah Indonesia


Pacar Merah Indonesia
Oleh Dadang Kusnandar
penulis lepas, tinggal di Cirebon
CIREBON akhir Juli 2010 di siang hari yang panas, pak Pos mengirim sebuah paket buku ke alamat saya. Dapat ditebak buku itu kiriman teman di Jakarta, Rita Matu Mona. Dan benar, saya langsung menyobek amplopnya. Novel Sejarah PACAR MERAH INDONESIA, Petualangan Tan Malaka Menjadi Buron Polisi Rahasia Kolonial, karya Matu Mona/ Hasbullah Parindurie terpampang di depan saya. Sejak dulu, guru bahasa Indonesia saya lapat-lapat pernah bercerita tentang kehebatan Tan Malaka, juga guru sejarah saya ketika SMP dan SMA puluhan tahun lalu. Teman saya pun seorang ideolog Tan Malaka, kini jadi pedagang kelontong di Sindanglaut Kabupaten Cirebon, kerap bertutur menyoal Madilog atau Materialisme Dialektika dan Logika karya Tan Malaka. Betapa bangga ia menceritakan Tan Malaka yang konon pikiran-pikiran briliannya diterjemahkan ke dalam Partai Murba --tokoh di parpol ini ialah Adam Malik.
Saya juga bangga akan kehebatan Tan Malaka. Bahkan sempat jadi moderator Hasan Nasbi (penulis buku Filosofi Negara Menurut Tan Malaka) tahun 2006 lalu di Cirebon. Acara tersebut diadakan Pemuda Demokrat Kota Cirebon. Dan dalam beberapa perbincangan dengan teman-teman sosialis,nasionalis, bahkan agamis ~Tan Malaka senantiasa jadi buah pikir yang tak pernah kering.
Berbagai asumsi muncul. Wajar adanya. Lantaran kehebatan tokoh pergerakan nasional yang sejak muda sudah menjejakkan kaki di berbagai negara Eropa dan Asia ini memakzulkan insprirasi bagi anak-anak muda. Setidaknya, jika tidak mampu seperti beliau, minimal mewarisi ide-ide besarnya tentang negara kesejahteraan, negara merdeka yang senantiasa peduli kepada orang kecil. Meminjam ujaran teman sang ideolog Tan Malaka di atas, sebut saja Oding, kekayaan Tan Malaka ditenggelamkan oleh tokoh pergerakan nasional yang menjadi rivalnya. Benar atau tidak asumsi tersebut, hingga kini saya belum mendapat kejelasan yang rasional. Mungkin karena lemahnya ingatan saya terhadap sosok hebat ini.
Novel Tak Berujung
Sejak dulu guru saya menjelaskan Tan Malaka dinamai Pacar Merah. Bukan karena beliau suka warna merah, melainkan merah dalam pengertian keberanian melawan kesewenang-wenangan (despotisme) kaum kolonial di mana pun. Tidak hanya di Indonesia. Perjalanan hidup membawa Tan Malaka kuliah di Belanda yang pada awal tahun 1920-an mulai gencar dengan “pulihnya” kesadaran perlakuan terhadap (maaf) kaum inlander alias imperiumnya di belahan bumi lain. Kesadaran ini tumbuh karena banyaknya alumni Prancis dan Inggris yang menawarkan konsep kiri.
Tan Malaka selepas mendulang ilmu di Belanda ditempatkan sebagai guru yang mengajar anak-anak kuli di perkebunan sawit Sumatra Utara.Pada bagian ini orang muda yang hebat itu berontak kepada kolonial.
Guru saya pun menjelaskan sebuah novel bertajuk Pacar Merah sebagai roman yang menggugah kesadaran pembacanya tentang nasionalisme. Tokoh fiktif yang dirujuk sebagai tokoh utama, tidak lain adalah Tan Malaka. Dulu ada yang berkata, Pacar Merah itu karya Tan Malaka namun ia menulis dengan berbagai nama.Karena baginya yang penting ialah pesan yang hendak disampaikan dalam roman atau katakanlah novel tak berujung itu.
Tapi sungguh kaget, dalam persahabatan dengan Rita Matu Mona, ternyata penulis Pacar Merah tidak lain adalah ayahandanya, Hasbullah Parindurie yang menggunakan nama samaran Matu Mona.
Bagi Pacar Merah hanya ada satu cinta, yaitu cinta bagi tanah airnya. Cintanya itu demikian besar, sampai-sampai tiada tempat bagi seorang wanita. Bahkan si cantik Ninon tak pernah menggoyahkan keyakinan dia akan cita-citanya yang satu ini.
Pada pertengahan tahun 1938, Matu Mona/ Hasbullah Parindurie di Singapura diundang oleh tukang jahit asal Sumatra Barat agar singgah di tokonya. Muncul Tan Malaka yang bernampilan seperti orang Cina dan hanya ingin berkenalan dengan pengarang PACAR MERAH INDONESIA yang telah dibacanya.
Ia tidak mau diwawancarai karena tak ingin tempat tinggalnya diketahui orang. Percakapan hanya sekadar ramah tamah hanya lima menit. Akhir 1938 terbit ROL PATJAR MERAH INDONESIA cs (Peranan Pacar Merah cs.). Sjarqawi dalam kata pengantarnya bertanya, "Siapa Patjar Merah cs itoe? Tak perloe diterangkan lagi bahasa orangnja ta' ada sama sekali, melainkan figuur-figuur yang hidoep dalam chajal si pengarang belaka: sebagaimana joega The Scarlet Pimpernel dari boeah renoengan Baronesse Orczy!'' Tak ada orang yang dikelabui oleh jawaban ini. Para pembaca tidak, dan pihak berwenang kemungkinan besar juga tidak.
Matu Mona pada tahun 1940 dihukum karena delik pers, sebagai penanggung jawab atas cerita bersambung dalam mingguan Penjedar, yang ia pimpin. Hal ini ditulis Soebagjo I.N pada sketsa biografi Matu Mona dalam buku ini. Matu Mona dihukum karena mengarang ROL PATJAR MERAH INDONESIA cs, dan proses pengadilannya berlangsung di Banjarmasin. Mungkin bobot hukumannya ditingkatkan tanpa dinyatakan, untuk membungkan seorang wartawan berbahaya untuk jangka waktu yang lama (nukilan kata pengantar Harry A. Poeze, Di Antara Fakta dan Fiksi).
Pemimpin komunis terkenal waktu Matu Mona mengarang bukunya semua ada di luar negeri ~karena dibuang atau melarikan diri dari Hindia Belanda~ yaitu Muso sebagai Paul Musotte, Alimin sebagai Ivan Alminsky, Darsono sebagai Darsonoff dan Semaun sebagai Semounoff. Tokoh lain dari kuintet ini, sekaligus tokoh utama novel sejarah ini : Tan Malaka.
Di Thailaind bernama Vichitra, di Cina bernama Tan Min Kha, seterusnya ia disebut "PATJAR MERAH". Dua teman seperjuangan Tan Malaka yakni Soebakat sebagai Soe Beng Kiat, dan Djamaluddin Tamin sebagai Djalumin.
Membaca Pacar Merah, kita dibawa berkeliling ke negeri-negeri jauh dengan konflik sosial politik yang berlangsung di situ. Thailand atau Negeri Gajah Putih merupakan pembuka yang mengantarkan pembaca menjelajah eksistensi Tan Malaka. Matu Mona piawai benar melukiskan detil Bangkok, tak hanya dari sisi pariwisata dengan “aceuk” atau nona-nona genit yang cantik manis asal Chiangmai, namun juga dari pergulatan politik yang berlangsung di sana pada tahun 1930 an.
Saya hampir terjebak menganalogikan Tan Malaka sebagai Tengku Rahidin dari Johor Malaysia. Lagi-lagi di sini kehebatan Matu Mona menggabungkan tokoh fiktif dan tokoh realis pada satu karya. Novel tak berujung ini menuturkan tentang spionase yang dilakukan Tan Malaka (Pacar Merah), bahkan dalam keadaan sakit yang sangat parah di tempat persembunyian rumah nelayan miskin di Bangkok.
Ragam Sejarah
Novel sejarah ini (pada hemat saya) didasari tiga alasan. Pertama, sebagaimana halnya kisah spionase, pembaca diajak keliling ke negeri jauh sesuai seting cerita, Kedua, hingga akhir hayatnya, Tan Malaka dan Matu Mona menutup biografinya sehingga ending yang diharapkan pembaca tidak nampak, Ketiga, seperti kelaziman catatan sejarah, semakin banyak versi semakin menarik.
Beberapa kali Tan Malaka punya pengalaman pemogokan dan perlawanan terhadap kaum pemilik modal. Di Medan tahun 1920 saat berada di perkebunan Deli, terjadi pemogokan kaum buruh yang dipimpin oleh Krediet. Krediet kemudian dipaksa mengundurkan diri dan dipulangkan ke Belanda. Tahun 1922 setelah terpilih menjadi Ketua PKI, Tan Malaka mendukung upaya mogok buruh pegadaian. Dukungan Tan Malaka ini dijadikan alasan untuk menangkap dan membuang Tan Malaka. (Hasan Nasbi : Filosofi Negara Menurut Tan Malaka)
Pada sekuel Keramaian di Kota Paris (halaman 103 - 146) dikisahkan kedatangan Alminsky/ Alimin dari Moskow untuk menjumpai Paul Mussotte/ Muso. Alminsky membawa pesan Semaunoff/ Semaun, "Untuk menjumpai Pacar Merah! Dia sudah bertindak sesukanya sendiri, rupanya dia memutuskan hubungan dengan Moskow."
Sampai kini saya belum memperoleh penjelasan yang reasonable, mengapa novel (dalam genre apa pun) selalu menyisipkan percintaan. Termasuk Pacar Merah Indonesia. Apakah percintaan lelaki dan perempuan ditulis untuk mengaduk emosi pembaca, atau guna memperpanjang cerita, ataukah sejarah tak pernah mampu menghindar dari percintaan?
Madamoiselle Ninon -putri Kun Phra Pao pembesar dinas rahasia internasional di Thailand- yang jatuh cinta kepada Pacar Merah, Mademoiselle Marcelle -putri Francois d'Iserre pemuka Partai Sosialis Prancis- yang saling jatuh cinta dengan Ivan Alminsky, juga Mamselle Aime yang berstatus mistress Paul Mussote.
Novel spionase mana pun senantiasa melibatkan kisah cinta. Kendati alur cerita Pacar Merah Indonesia lebih kaya merepresentasi pergerakan pemuda Indonesia menjelang kemerdekaan bangsa yang ditunggu itu, tapi tak lepas dari bumbu cinta.
Dialog Ivan Alminsky dengan Marcelle di depan Menara Eiffel (halaman 151) :
Kekasihku, hidupku ini bagaikan hidup seorang patriot, aku tidak boleh memikirkan kepentingan diriku sendiri. Aku mempunyai dua cinta. Pertama, cintaku pada tanah airku, kedua, cintaku kepada kau, ma petite sorite! (kekasihku yang budiman). Begitu besar cintaku pada tanah airku, begitu besar pula cintaku pada kau, Marcelle. Karena itu aku merasa serba salah. Kalau aku tidak memenuhi kewajibanku pada tanah airku niscaya aku diaanggap sebagai seorang pengkhianat dan pengecut. Kau tahu sekarang Marcelle, bagaimana kehidupanku penuh dengan marabahaya. Ibarat kata pepatah bangsa kami, "Nasib sabut timbul, nasib batu tenggelam". Kalau nasibku mujur nona, selamatlah aku pulang kembali menjumpaimu nona, tapi bila nasibku bagai batu maka tenggelamlah aku di dalam lubuk kesengsaraan atau lebih tegas dimasukkan ke dalam penjara yang amat sengsara sekali. Akan tetapi saya percaya kalau nona akan mendo'akanku sepanjang masa, mudah-mudahan saya dapat melepaskan diri dari segala bencana yang menghadang itu.***
Senin, 06 Juli 2009
Pemilu Legislatif 2009
Catatan Dadang Kusnandar
Kamis 9 April 2009 hari H Pemilu legislatif. Pukul 05.45 wib saya meneruskan sms yang diperoleh seorang kawan dekat di Indramayu 27 Maret 2009 pukul 21.20.49 wib. Isi sms yang panjang itu : Aja milih kuning lamun atine ora bening. Aja milih abang lamun kegembang lambe abang. Aja milih ijo lamun doyan mbebodo. Aja milih biru lamun kegawa ning garu. Aja milih gadung bokat wedi kesandung. Aja milih ireng lamun gawe urip kang bureng. Pilhen sing suci. Sing wis adus getih. Tirakat panas perih. Kocap lan tindak kraket dadi siji.
Artinya lebih kurang : Jangan pilih kuning kalau hati (caleg) nya tidak bening. Jangan pilih merah kalau tergoda bibir merah. Jangan pilih hijau bia suka berbohong. Jangan pilih biru kalau terbawa garu. Jangan pilih kuning muda barangkali takut tersandung. Jangan pilih hitam kalau membuat hidup menjadi buram. Pilihlah yang suci (bersih). Yang sudah mandi darah. Tirakat (kontempelasi) panas perih. Ucapan dan tindakan melekat jadi satu.
Sms panjang yang seru itu membangkitkan semacam kesadaran, bahwa pemilu kali ini harus benar-benar memilih caleg yang berkualitas. Kenali track recordnya baik di dalam parpolnya maupun keterlibatan di masyarakat.
Dari 16 sms panjang yang saya sebar ada beberapa yang menjawab seperti berikut : (1) Sing jelas sekien akeh kelambi abang atie lebih kuning (yang jelas, sekarang banyak yang berpakaian merah hatinya lebih kuning). (2) Pemilu semrawut, lalu lintas semrawut, pedaringan susut (tempat beras susut). (3) Pilih kang endi bae majikane siji: Ali Baba. Rakyat dikongkon mengkenen dikongkon mengkonon tapi bli pernah dikongkon sugih bareng. Niat ingsun milih geguyuban mbangun budaya politik kanggo mbesukiki. Bismillah! ( memilih yang mana saja tuannya satu: Ali Baba. Rakyat disuruh begini disuruh begitu tetapi tidak pernah disuruh jadi kaya bersama. Niat saya guyub membangun budaya politik untuk esok. Bismillah!).
(4) Kang mekoten saniki mboten wonten, dados kula mboten milih mawon nggih.......wilujeng (yang seperti itu sekarang tidak ada, jadi saya tidak memilih saja ya..... selamat). (5) Ladala....ninggal glanggang, lunga playon, ya wis ora apa-apa asal manungsa jagat nusantarae delap urip panjang umur, ana deleng dideleng, ana rungu dirungu, sing sugih rezeki getol tawasulan. Para pemimpine ora pada takabur lan keblinger, aja ngrasa bisa durung bisa diartiken kang bener-bener bisa ngayomi masyarakate kang adil peceka! Nyuwun pangampura kula......matur kesuwun (ladala.....meninggalkan gelanggang, pergi lari, ya sudah tidak apa-apa asal rakyat nusantara diberkahi panjang umur, ada yang dilihat-- lihat saja, ada yang didengar --dengar saja, yang kaya rizki gemar tawasul. Para pemimpinnya tidak takabur (sombong) dan semau sendiri, jangan merasa bisa tidak bisa diartikan yang benar-benar bisa mengayomi masyarakatnya agar adil sejahtera! Mohon maaf saya.....terima kasih.
Namun ada yang menjawab demikian: SBY Presidenku PKS Partaiku. PKS-Presiden keren sekali karena partai kuning merah ijo itu golongan-golongan para pencipta korupsi KKN dan penjual aset negara.
Ada juga yang membalas seperti ini: Saat ini banyak ketidakpastian, parpol kehilangan kontrol. Riak kemarahan terjadi di Bandung seperti mendungnya langit saat ini, dan di mana-mana berlangsung delegitimasi terhadap KPU daerah. Kita tidak patut bersyukur atas hasil pemilu 2009 karena kecilnya perolehan suara partai sebagai cermin mesin politik tidak mampu bergerak secara progesif. Bahkan kita berkabung karena liberalisasi politik telah merontokkan identitas partai dan rasa kebersamaan ideologi kerakyatan. Pemilu ini menjebak kita pada pusaran-pusaran kapitalisme politik. Alhasil semua energi dikerahkan hanya untuk kepentingan individu sesuai dengan roh kapitalisme. Begitulah setidaknya kita punya kehendak yang progesif karena kalau kita menunggu pemilu hampir sama dengan kita menunggu bubarnya ibu pertiwi ini. Buat kita, pemilu melalui sistemnya adalah fase demi fase runtuhnya kesadaran nasionalisme kita yang telah direncanakan secara sistematis. Entah oleh siapa......?
Mengapa saya mengirim sms seperti itu? Sms panjang (lms) dari Saptaguna di Indramayu itu mengingatkan saya, minimal untuk tidak salah memilih caleg pada 9 April. Dan sebagai upaya saling mengingatkan maka saya mengirimkannya kepada teman-teman di Cirebon, Bandung dan Jakarta. Bukan apa-pa, cuma untuk mengingatkan jalan sekali-kali memilih seorang caleg tanpa mengenal track record politiknya, jangan memilih caleg yang tidak kita kenal -- kendati dalam beberapa hal saya termasuk menyayangkan proses pemilu 2009 yang menurut banyak orang : acak adul. Tak heran jika ada teman yang secara eksplisit menjawab sms saya : Golput!
Lalu Apa?
Pemilu legislatif 2009 sudah berakhir dan KPU telah menetapkan perolehan suara serta peolehan kursi tiap parpol di parlemen. Kendati masih menyisakan problem yang cukup krusial, yakni masalah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dikhawatrikan akan muncul lagi pada Pemilu Presiden Rabu 8 Juli 2009 yang tinggal dua hari itu; pemilu legislatif tetap mencerminkan tumbuhnya demokrasi di Indonesia.
Banyak kalangan menilai telah terjadi penurunan kualitas caleg terpilih yang akan mewakili suara para pemilihnya di DPR, DPRD, dan DPD. Akan tetapi karena kita masih menganut sistem parlementer, maka mau tidak mau kita harus menerima hasil pemilu 9 April lalu. Sorotan atas hadirnya sejumlah artis sinetron, model, tokoh lokal yang dikenal warga setempat, wajah lama DPR, DPRD, dan DPD yang kembali berkiprah pada 2009 - 2014 setidaknya memberikan nuansa baru penilaian kita pada proses demokrasi langsung, terbuka, dan serentak di seluruh Indonesia ini.
Apa pun hasilnya, inilah wajah negeri kita. Negeri yang kaya raya namun dililit banyak persoalan serius menyangkut hubungan antarnegara (ingat: Amabalat dengan Malaysia, ketergantungan utang luar negeri, hubungan diplomatik dengan Israel, dan sebagainya), etnosentrisme yang masih mengganggu kebhinekaan, korupsi yang susah dibasmi, pendidikan nasional yang selalu jadi ajang uji coba, masalah kesehatan masyarakat yang terus didera sistem penjatahan bagi orang miskin namun banyak praktek penyimpangan di tubuh departemen kesehatan, buruh yang ditinggalkan serta kurang ditaut UU Perburuhan No.13/ 2005, dan masih banyak persoalan besar yang menantang. Menuntut penyelesaian yang memihak kepentingan publik.
Mereka yang terpilih seharusnya tidak terbuai dalam kesenangan semata. Take home pay untuk anggota DPR RI dan DPD RI senilai Rp 58,4 juta per bulan, belum ditambah uang reses per tiga bulan, seharusnya memacu semangat kerja yang optimal bagi perbaikan bangsa ke depan. Duduk di kursi panas di parlemen seharusnya diniati oleh keinginan mengabdi kepada bangsa. Bukan menyakiti bangsa. Bukan mengkhianati perasaan publik.
Kamis 9 April 2009 hari H Pemilu legislatif. Pukul 05.45 wib saya meneruskan sms yang diperoleh seorang kawan dekat di Indramayu 27 Maret 2009 pukul 21.20.49 wib. Isi sms yang panjang itu : Aja milih kuning lamun atine ora bening. Aja milih abang lamun kegembang lambe abang. Aja milih ijo lamun doyan mbebodo. Aja milih biru lamun kegawa ning garu. Aja milih gadung bokat wedi kesandung. Aja milih ireng lamun gawe urip kang bureng. Pilhen sing suci. Sing wis adus getih. Tirakat panas perih. Kocap lan tindak kraket dadi siji.
Artinya lebih kurang : Jangan pilih kuning kalau hati (caleg) nya tidak bening. Jangan pilih merah kalau tergoda bibir merah. Jangan pilih hijau bia suka berbohong. Jangan pilih biru kalau terbawa garu. Jangan pilih kuning muda barangkali takut tersandung. Jangan pilih hitam kalau membuat hidup menjadi buram. Pilihlah yang suci (bersih). Yang sudah mandi darah. Tirakat (kontempelasi) panas perih. Ucapan dan tindakan melekat jadi satu.
Sms panjang yang seru itu membangkitkan semacam kesadaran, bahwa pemilu kali ini harus benar-benar memilih caleg yang berkualitas. Kenali track recordnya baik di dalam parpolnya maupun keterlibatan di masyarakat.
Dari 16 sms panjang yang saya sebar ada beberapa yang menjawab seperti berikut : (1) Sing jelas sekien akeh kelambi abang atie lebih kuning (yang jelas, sekarang banyak yang berpakaian merah hatinya lebih kuning). (2) Pemilu semrawut, lalu lintas semrawut, pedaringan susut (tempat beras susut). (3) Pilih kang endi bae majikane siji: Ali Baba. Rakyat dikongkon mengkenen dikongkon mengkonon tapi bli pernah dikongkon sugih bareng. Niat ingsun milih geguyuban mbangun budaya politik kanggo mbesukiki. Bismillah! ( memilih yang mana saja tuannya satu: Ali Baba. Rakyat disuruh begini disuruh begitu tetapi tidak pernah disuruh jadi kaya bersama. Niat saya guyub membangun budaya politik untuk esok. Bismillah!).
(4) Kang mekoten saniki mboten wonten, dados kula mboten milih mawon nggih.......wilujeng (yang seperti itu sekarang tidak ada, jadi saya tidak memilih saja ya..... selamat). (5) Ladala....ninggal glanggang, lunga playon, ya wis ora apa-apa asal manungsa jagat nusantarae delap urip panjang umur, ana deleng dideleng, ana rungu dirungu, sing sugih rezeki getol tawasulan. Para pemimpine ora pada takabur lan keblinger, aja ngrasa bisa durung bisa diartiken kang bener-bener bisa ngayomi masyarakate kang adil peceka! Nyuwun pangampura kula......matur kesuwun (ladala.....meninggalkan gelanggang, pergi lari, ya sudah tidak apa-apa asal rakyat nusantara diberkahi panjang umur, ada yang dilihat-- lihat saja, ada yang didengar --dengar saja, yang kaya rizki gemar tawasul. Para pemimpinnya tidak takabur (sombong) dan semau sendiri, jangan merasa bisa tidak bisa diartikan yang benar-benar bisa mengayomi masyarakatnya agar adil sejahtera! Mohon maaf saya.....terima kasih.
Namun ada yang menjawab demikian: SBY Presidenku PKS Partaiku. PKS-Presiden keren sekali karena partai kuning merah ijo itu golongan-golongan para pencipta korupsi KKN dan penjual aset negara.
Ada juga yang membalas seperti ini: Saat ini banyak ketidakpastian, parpol kehilangan kontrol. Riak kemarahan terjadi di Bandung seperti mendungnya langit saat ini, dan di mana-mana berlangsung delegitimasi terhadap KPU daerah. Kita tidak patut bersyukur atas hasil pemilu 2009 karena kecilnya perolehan suara partai sebagai cermin mesin politik tidak mampu bergerak secara progesif. Bahkan kita berkabung karena liberalisasi politik telah merontokkan identitas partai dan rasa kebersamaan ideologi kerakyatan. Pemilu ini menjebak kita pada pusaran-pusaran kapitalisme politik. Alhasil semua energi dikerahkan hanya untuk kepentingan individu sesuai dengan roh kapitalisme. Begitulah setidaknya kita punya kehendak yang progesif karena kalau kita menunggu pemilu hampir sama dengan kita menunggu bubarnya ibu pertiwi ini. Buat kita, pemilu melalui sistemnya adalah fase demi fase runtuhnya kesadaran nasionalisme kita yang telah direncanakan secara sistematis. Entah oleh siapa......?
Mengapa saya mengirim sms seperti itu? Sms panjang (lms) dari Saptaguna di Indramayu itu mengingatkan saya, minimal untuk tidak salah memilih caleg pada 9 April. Dan sebagai upaya saling mengingatkan maka saya mengirimkannya kepada teman-teman di Cirebon, Bandung dan Jakarta. Bukan apa-pa, cuma untuk mengingatkan jalan sekali-kali memilih seorang caleg tanpa mengenal track record politiknya, jangan memilih caleg yang tidak kita kenal -- kendati dalam beberapa hal saya termasuk menyayangkan proses pemilu 2009 yang menurut banyak orang : acak adul. Tak heran jika ada teman yang secara eksplisit menjawab sms saya : Golput!
Lalu Apa?
Pemilu legislatif 2009 sudah berakhir dan KPU telah menetapkan perolehan suara serta peolehan kursi tiap parpol di parlemen. Kendati masih menyisakan problem yang cukup krusial, yakni masalah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dikhawatrikan akan muncul lagi pada Pemilu Presiden Rabu 8 Juli 2009 yang tinggal dua hari itu; pemilu legislatif tetap mencerminkan tumbuhnya demokrasi di Indonesia.
Banyak kalangan menilai telah terjadi penurunan kualitas caleg terpilih yang akan mewakili suara para pemilihnya di DPR, DPRD, dan DPD. Akan tetapi karena kita masih menganut sistem parlementer, maka mau tidak mau kita harus menerima hasil pemilu 9 April lalu. Sorotan atas hadirnya sejumlah artis sinetron, model, tokoh lokal yang dikenal warga setempat, wajah lama DPR, DPRD, dan DPD yang kembali berkiprah pada 2009 - 2014 setidaknya memberikan nuansa baru penilaian kita pada proses demokrasi langsung, terbuka, dan serentak di seluruh Indonesia ini.
Apa pun hasilnya, inilah wajah negeri kita. Negeri yang kaya raya namun dililit banyak persoalan serius menyangkut hubungan antarnegara (ingat: Amabalat dengan Malaysia, ketergantungan utang luar negeri, hubungan diplomatik dengan Israel, dan sebagainya), etnosentrisme yang masih mengganggu kebhinekaan, korupsi yang susah dibasmi, pendidikan nasional yang selalu jadi ajang uji coba, masalah kesehatan masyarakat yang terus didera sistem penjatahan bagi orang miskin namun banyak praktek penyimpangan di tubuh departemen kesehatan, buruh yang ditinggalkan serta kurang ditaut UU Perburuhan No.13/ 2005, dan masih banyak persoalan besar yang menantang. Menuntut penyelesaian yang memihak kepentingan publik.
Mereka yang terpilih seharusnya tidak terbuai dalam kesenangan semata. Take home pay untuk anggota DPR RI dan DPD RI senilai Rp 58,4 juta per bulan, belum ditambah uang reses per tiga bulan, seharusnya memacu semangat kerja yang optimal bagi perbaikan bangsa ke depan. Duduk di kursi panas di parlemen seharusnya diniati oleh keinginan mengabdi kepada bangsa. Bukan menyakiti bangsa. Bukan mengkhianati perasaan publik.
Pilpres 2009: Proses Atau Parodi
Pemilu Presiden yang tersisa 2 hari ini tampaknya tidak mempengaruhi aktivitas warga. Publikasi televisi yang gencar : debat capres cawapres, iklan capres cawapres, dukungan yang terus mengalir kepada kandidat -- sepertinya terhenti ketika kantor pendidikan nasional kota Cirebon menetapkan Sabtu 4 Juli 2009 sebagai hari testing masuk ke SMP Negeri dan SMA Negeri / SMK Negeri. Pengumuman penerimaan siswa baru dijadwalkan Kamis 9 Juli 2009. Orang tua sibuk menyediakan berbagai sarana untuk penerimaan siswa baru karena proses belajar mengajar ditetapkan Senin 13 Juli 2009.
Pilpres yang menelan biaya Rp 25 triliun itu bagai "tenggelam" oleh kesibukan agar anak dapat diterima di sekolah yang diminati. NEM atas UASBN yang dinilai 50% dan 50% sisanya dari hasil test, tetapi bagi pendaftar yang berprestasi dengan melampirkan sertifikat yang dilegalisir diknas setempat konon sudah memperoleh angka 20%.
Memasuki hari tenang sejak Senin 6 Juli ini hampir tidak ada keriuhan lagi, selain di studio televisi yang gencar mematut-matut Pilpres 2009 sebagai turning point Indonesia ke depan. Lima tahun ke depan Indonesia ditentukan oleh pilihan kita di TPS. Tetapi inilah asiknya bangsa Indonesia : lebih intens menindaklanjuti kebutuhan sesaat. Memang tidak salah jikalau orang tua menghendaki anaknya bisa diterima di sekolah negeri sesuai dengan keinginan anak. Tidak salah pula jika orang tua memfokuskan kegiatannya agar keinginan tersebut terwujud. Maka berbagai cara ditempuh. Ada yang menitipkan anaknya kepada "aparat" partai politik, forum diskusi, ormas, termasuk ada pula yang langsung menitipkan kepada guru atau panitia Penerimaan Siswa Baru di sekolah yang dituju, serta ada yang menitipkan kepada jajaran diknas terkait.
Saya pernah menyaksikan debat capres cawapres sekira tiga kali. Penilaian saya pun (subjektif) mematok bahwa acara debat TIDAK MENARIK. Pertama, ia lebih suka jikalau capres cawapres menjawab pertanyaan panelis secara cepat, tanpa memperhatikan (menyimak) isi jawaban capres cawapres. Kedua, tidak ada kedalaman di balik pertanyaan serta jawaban capres cawapres. Ketiga, panelis dan presenter berebut ruang untuk bicara, seakan acara itu menjadi porsi mereka. Keempat, pemirsa di dalam studio sudah menentukan capres cawapres tertentu -- dan pemirsa di rumah tidak akan mengubah pilihannya setelah menyaksikan debat itu. Kelima, karena acara tidak menarik (bukan presentasi capres cawapres) maka pemirsa memindahkan chanel televisinya.
Saat ini mungkin hanya tim sukses capres cawapres yang masih giat mengotak-atik perkiraan angka perolehan Rabu 8 Juli mendatang. Selebihnya, banyak aktivis parpol hanya menunggu Hari H. Sementara masyarakat secara umum tampak lelah dengan kesibukan yang harus segera diselesaikan saat ini juga. Begitulah adanya, kita tidak begitu terlibat dengan ajang demokrasi lima tahunan untuk menentukan arah Republik Indonesia lima tahun ke depan. Bisa saja hal ini berlangsung karena kita belum lama melaksanakan pemilu legislatif 3 bulan ke belakang, lengkap dengan hiruk pikuknya, malah masih tersisa persoalan yang mengundang tanda tanya besar (baca: DPT).
Belum lagi bagi warga kebanyakan yang lebih suka berpikir sesaat, berpikir tentang pedaringan jomplang (tempat beras yang kosong), berpikir besarnya biaya pendidikan SMP dan SMA/ SMK, berpikir utang yang tidak selesai, berpikir mengenai kebutuhan sehari-hari. Jadi ruang untuk memikirkan nasib Indonesia lima tahun ke depan, sepertinya diserahkan kepada mereka yang mau saja.
"Bung, sudahlah menteri banyak. Gubernur, walikota, bupati banyak. Orang pintar banyak. Tidak perlu pikirkan negara. Pikirkan saja keluarga kita, makan apa hari ini?", gurau seorang kawan. Saya menjawab ringan, "Iya juga sih, tapi di kota ini juga banyak orang yang bertanya, makan di (restoran) mana hari ini?".
Bila perbincangan bertumpu pada makananan dan mengabaikan kepentingan yang lebih besar, boleh jadi Pilpres 2009 menjadi tidak menarik. TPS bakal sepi. Dengan kata lain bakal cepat KPPS menghitung perolehan suara kandidat presiden 2009 - 2014 di TPS masing-masing. Saya tidak tahu, apakah suasana seperti ini menguntungkan proses demokrasi di Indonesia. Atau sebaliknya, kini tengah berlangsung parodi demokrasi di Indonesia.
Pilpres yang menelan biaya Rp 25 triliun itu bagai "tenggelam" oleh kesibukan agar anak dapat diterima di sekolah yang diminati. NEM atas UASBN yang dinilai 50% dan 50% sisanya dari hasil test, tetapi bagi pendaftar yang berprestasi dengan melampirkan sertifikat yang dilegalisir diknas setempat konon sudah memperoleh angka 20%.
Memasuki hari tenang sejak Senin 6 Juli ini hampir tidak ada keriuhan lagi, selain di studio televisi yang gencar mematut-matut Pilpres 2009 sebagai turning point Indonesia ke depan. Lima tahun ke depan Indonesia ditentukan oleh pilihan kita di TPS. Tetapi inilah asiknya bangsa Indonesia : lebih intens menindaklanjuti kebutuhan sesaat. Memang tidak salah jikalau orang tua menghendaki anaknya bisa diterima di sekolah negeri sesuai dengan keinginan anak. Tidak salah pula jika orang tua memfokuskan kegiatannya agar keinginan tersebut terwujud. Maka berbagai cara ditempuh. Ada yang menitipkan anaknya kepada "aparat" partai politik, forum diskusi, ormas, termasuk ada pula yang langsung menitipkan kepada guru atau panitia Penerimaan Siswa Baru di sekolah yang dituju, serta ada yang menitipkan kepada jajaran diknas terkait.
Saya pernah menyaksikan debat capres cawapres sekira tiga kali. Penilaian saya pun (subjektif) mematok bahwa acara debat TIDAK MENARIK. Pertama, ia lebih suka jikalau capres cawapres menjawab pertanyaan panelis secara cepat, tanpa memperhatikan (menyimak) isi jawaban capres cawapres. Kedua, tidak ada kedalaman di balik pertanyaan serta jawaban capres cawapres. Ketiga, panelis dan presenter berebut ruang untuk bicara, seakan acara itu menjadi porsi mereka. Keempat, pemirsa di dalam studio sudah menentukan capres cawapres tertentu -- dan pemirsa di rumah tidak akan mengubah pilihannya setelah menyaksikan debat itu. Kelima, karena acara tidak menarik (bukan presentasi capres cawapres) maka pemirsa memindahkan chanel televisinya.
Saat ini mungkin hanya tim sukses capres cawapres yang masih giat mengotak-atik perkiraan angka perolehan Rabu 8 Juli mendatang. Selebihnya, banyak aktivis parpol hanya menunggu Hari H. Sementara masyarakat secara umum tampak lelah dengan kesibukan yang harus segera diselesaikan saat ini juga. Begitulah adanya, kita tidak begitu terlibat dengan ajang demokrasi lima tahunan untuk menentukan arah Republik Indonesia lima tahun ke depan. Bisa saja hal ini berlangsung karena kita belum lama melaksanakan pemilu legislatif 3 bulan ke belakang, lengkap dengan hiruk pikuknya, malah masih tersisa persoalan yang mengundang tanda tanya besar (baca: DPT).
Belum lagi bagi warga kebanyakan yang lebih suka berpikir sesaat, berpikir tentang pedaringan jomplang (tempat beras yang kosong), berpikir besarnya biaya pendidikan SMP dan SMA/ SMK, berpikir utang yang tidak selesai, berpikir mengenai kebutuhan sehari-hari. Jadi ruang untuk memikirkan nasib Indonesia lima tahun ke depan, sepertinya diserahkan kepada mereka yang mau saja.
"Bung, sudahlah menteri banyak. Gubernur, walikota, bupati banyak. Orang pintar banyak. Tidak perlu pikirkan negara. Pikirkan saja keluarga kita, makan apa hari ini?", gurau seorang kawan. Saya menjawab ringan, "Iya juga sih, tapi di kota ini juga banyak orang yang bertanya, makan di (restoran) mana hari ini?".
Bila perbincangan bertumpu pada makananan dan mengabaikan kepentingan yang lebih besar, boleh jadi Pilpres 2009 menjadi tidak menarik. TPS bakal sepi. Dengan kata lain bakal cepat KPPS menghitung perolehan suara kandidat presiden 2009 - 2014 di TPS masing-masing. Saya tidak tahu, apakah suasana seperti ini menguntungkan proses demokrasi di Indonesia. Atau sebaliknya, kini tengah berlangsung parodi demokrasi di Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)