Rabu, 30 Januari 2013

Sajak Saptaguna Menilai Pilkada



Oleh Dadang Kusnandar
Penulis lepas, tinggal di Cirebon

AKHIR 2012 yang lalu saya memperoleh hadiah sebuah sajak karya Saptaguna. Penulis asal Indramayu Jawa Barat yang getol berkarya. Di kamar sebuah hotel berbintang di Cirebon siang itu, ia membacakan karyanya. Ia tidak main-main dengan karyanya. Sajak berbahasa Cirebon berjudul Woi, Wong! yang ditulisnya pada tahun 2010 berbicara lantang tentang situasi politik. Suatu hal menggembirakan karena penyair tetap bersinggungan langsung dengan kondisi aktual yang berlangsung di sekitarnya. Pengamatannya tentang situasi sosial politik memungkinkannya memotret Indonesia dalam bingkai yang lebih bening. Setidaknya ketika ketidakpercayaan terhadap sejumlah partai politik terus berlangsung, ketika para pemimpin sibuk membentengi kekuasaan dengan berbagai cara, dan ketika manusia digiring untuk percaya pada janji-janji kampanye.

Melihat gambar berupa spanduk, baligo, poster sepanjang pinggir kali, kata Saptaguna hatinya merasa nelangsa. Seperti kita juga, karena untuk mengabdi kepada negara apakah mesti berteriak alias harus memberi tahu publik? Dan haruskah memiliki pangkat/ jabatan/ kedudukan politik serta memberi sejumlah uang demi pembelaan orang bernasib pahit? Saptaguna menulis dengan pedih: ndelengi gambar seturute pinggir dermaga/ ati krasa nelangsa/ apa kudu wewara ngabdi ning negara?/ apa kudu ngedani pangkat ngurusi rayat?/ apa kudu tabur duit mbela wong kang nasibe pait?  

Sudah menjadi kelaziman wajah yang terpampang pada spanduk dan baligo kampanye pemilihan kepala daerah menyertakan berbagai keunggulan pribadi. Wajah yang telah dipoles itu memberikan janji dan berkata-kata bahwa ia layak menduduki jabatan politik yang dikejarnya. Pada event politik reguler lima tahunan itu, wajah-wajah ganteng dan cantik itu mengajak pemilih menyerahkan dukungan/ suara politiknya kepada mereka. Tentu saja tidak semua orang menerima dan percaya. Politik uang yang diperhalus dengan nama biaya (cost) politik, menyebabkan tawa manakala melihat gambar yang terpajang di spanduk dan baligo sepanjang jalanan kota. Nyawang poto kang begrak lan ayu/ ati dadi gemuyu:/ tangan ngepel/ luru sega sekepel/ cangkem mesem/ amber rayat kesengsem/ nyandang jas anyar/ karna ngudagi palar.

Cukup jeli sang penyair merinci jenis gambar yang terpampang itu. Dari gerak tangan dan senyum sang bakal calon (kepala daerah), sebenarnya memunculkan tawa, selain tetap tidak beranjak dari pencarian kekayaan (sega sekepel). Senyum yang disungging juga tak iklas karena ia ingin supaya pemilih tertarik. Pada senyumnya yang memikat. Adakah yang lebih beruntung atau diuntungkan oleh penampilan gambar ini? Rakyatkah atau para tim sukses yang membagi sebagian rejeki kepada pengusaha spanduk? Lantas apa yang diperoleh pemilih/ konstituen dari sederet gambar itu? Tidak jelas, karena sepanjang sosok di balik gambar itu diketahui perilakunya oleh masyarakat, jangan harap memperoleh dukungan. Terlebih memberikan suara politiknya di TPS pada Hari H. Kenapa demikian? Belum ada catatan pilkada yang mengungguli perolehan suara golput. Kedua, pilkada masih berkutat pada pemilahan antara aku dan kamu, belum bicara kita. Ketiga, pemilihan kepala daerah tidak sedikit yang memperlakukan pemilih pada kategori “khalayak” yang gampang dikibuli.

Wajar dan beralasan apabila Saptaguna mencibir: woi wong!/ aja milih kuning lamun atine ora bening/ aja milih ijo baka doyan bebodo/ aja milih abang lamun kegembang ning lambe abang/ aja milih gadung bokat wedi kesandung/ aja milih biru baka kaya kodok kegawa ning garu/ aja milih ireng ari gawe urip kang bureng. Artinya kita jangan memilih calon dari partai politik mana pun dengan semua warnanya apabila hatinya tidak bening, suka menipu, doyan perempuan, takut tersandung (proses hukum dsb), inkonsistensi, atau membawa hidup yang buram. Bayangkan apa jadinya apabila kita memilih calon kepala daerah dengan criteria sebagaimana gambaran di atas. Rakyat lagi-lagi akan terus berada pada subordinat dan menjadi objek main-main, dan terus berulang.

Menyimak pemilihan kepala daerah di Indonesia, kita dihadapkan pada ketegasan sikap. Sikap politik yang membentengi diri supaya tidak berkutat pada kubangan yang sama, kubangan yang menyertakan betapa politik sepanjang republik ini berdiri gagal menyejahterakan rakyat. Angka pertumbuhan ekonomi, tingkat kemampuan/ daya beli masyarakat yang katanya menguat, dan geliat dinamika ekonomi berbasis kerakyatan ~semuanya tak lebih lip service yang jauh panggang dari api. Berkali dan berulang pemilihan kepala daerah hadir pada teks politik Indonesia, dan berkali pula belum menampakkan hasil yang optimal bagi kesejahteraan. Setragis dan sedramatis itukah gambaran pilkada?

Sebagai referensi sebaiknya pemilih berhati-hati menentukan sikap politik, perlu pertimbangan jeli dan seksama agar kerja lima tahunan itu mampu memberi arti bagi tuntutan rakyat. Rakyat sebenarnya tidak banyak meminta ini itu, kecuali harga sembako yang murah, pendidikan dan kesehatan terjangkau (syukur jika gratis), terselenggaranya pemerintahan yang bersih dan baik, serta kekuatan hukum di atas  politik. Dan Saptaguna memberi kiat: woi, wong!/ pilihen sing putih/ sing wis adus getih/ tirakat panas perih/ nuruti ati kelawan niat kang suci/ kocap lan tindak kraket dadi siji/ ora keder ora wedi/ mbelani rayat ngorbanaken pati. Putih di sini bermakna suci, apa pun warna bendera partai politiknya. Namun ia telah bermandi darah, menyukai lapar asalkan rakyat kenyang, mengikuti kata hati dengan niat suci, tindakan dan perbuatan menyatu, tidak gamang dan tidak takut. Tak kalah penting: ia harus membela rakyat meski harus mengorbankan jiwa.

Pertanyaannya, adakah sosok di balik gambar spanduk dan baligo pilkada yang mewakili kiat sang penyair itu? Woi, wong! Weru beli? Wahai manusia, tahukah Anda?  Benarkah sosok di balik gambar yang terpampang sepanjang gelar pilkada berhasil merepresentasikan calon pemimpin yang didambakan? Semuanya kembali kepada Anda, pembaca budiman. Di tangan Anda  letak nasib daerah yang Anda tempati. Di dalam perenungan dan kesadaran positif Anda, pilkada menjadi objek. Bukan subjek, dan tidak sekali pun mengharuskan Anda menentukan pilihan kepada seseorang.

Sajak Woi, Wong! karya Saptaguna menjadi pilihan paforit peserta lomba Maca Puisi Cerbonan yang diadakan akhir November 2012 sebagai bagian kegiatan Lomba Basal an Sastra Cerbon Tingkat Provinsi Jawa Barat, yang diadakan oleh Balai Pengembangan Bahasa Daerah dan Kesenian Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Sajak Woi, Wong! rupanya menyemangati siswa SD/MI, SMP/MTs, SMA/ MA/ SMK untuk merenungkan kembali makna pemilihan kepala daerah bagi rakyat. Semoga pembaca sajak Saptaguna kelak pada saat tiba waktunya untuk mengikuti pilkada, memiliki kesadaran seperti baris sajak yang dibacakannya pada lomba tersebut.***

Muludan: Kreativitas dan Proses Budaya



Oleh Dadang Kusnandar

MULUDAN di Cirebon merupakan peristiwa budaya dengan kemasan agama Islam. Sarana pengingat kelahiran Nabi Muhammad saw yang ditandai dengan peristiwa pelal pada 12 Rabiul Awal. Mulud diambil dari kata maulid, milad (bahasa Arab) yang berarti lahir. Artinya pada tanggal tersebut berlangsung sebuah peristiwa besar yang patut diingat (dan diperingati) karena bersamaan dengannya juga terjadi perubahan peradaban dunia.

Menurut sejarah, konon Maulid diadakan sebagai pemicu semangat perang manakala Panglima Shalahudin Al-Ayubbi mendapati pasukannya mengalami depresi akibat perang terlama sepanjang sejarah kemanusiaan, yakni Perang Salib, pada abad ke-12 hingga 13 Masehi. Memperingati kelahiran Nabi Suci Muhammad saw terbukti, memulihkan kembali semangat berperang, spirit tentara Islam yang luluh itu bangkit kembali dengan mengenang kisah hidup Sang Nabi.

Muludan dengan demikian bersejajar dengan pelbagai makna dan filosofi yang membingkai ajaran agama dalam pendekatan tradisi lokal. Pembacaan kitab Barzanji tak uruang menjadi penanda penting yang menaut agama Islam dengan tradisi lokal. Kisah Nabi Muhammad saw dibacakan di masjid yang dipimpin oleh ulama keraton lantas disudahi dengan makan minum pelepas dahaga ~adalah akulturasi budaya Hindu dan Islam. Pembacaan kisah Nabi ini mengiringi beberapa makna yang terkandung di dalam kitab tersebut. Setidaknya kisah hidup Nabi memberi spirit sekaligus referensi untuk menapakkan jejak kehidupan yang lebih baik.

Tiga keraton di Cirebon, yakni Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan senantiasa semarak pada peristiwa Muludan. Kanoman sebagai pemula yang mengadakan kegiatan ini lantas diikuti Kasepuhan dan Kacirebonan; pada dasarnya adalah pangeling-eling atas kenabian Muhammad saw. Imbas peristiwa budaya itu memberi ruang ekspresi bagi sejumlah profesi. Pedagang, kerabat dan keluarga keraton, swasta, bahkan pemerintah daerah. 

Terjadinya transaksi dagang, promosi karya, maupun arena hiburan keluarga yang berlangsung sepanjang keramaian Muludan tidak lain ialah imbas (mungkin juga berkah) atas peristiwa besar kelahiran Sang Nabi. Kekuatannya juga ditunjang oleh kreativitas Wali Sanga tatkala menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa khususnya (lantas menyebar ke pulau lain). Pertemuan budaya setempat dengan kelihaian Wali Sanga menggunakan metoda percampuran, dalam teks ini bukan merupakan sinkretisme lantaran ia sama sekali tidak menyentuh persoalan `ubudiyah (persembahan individu secara langsung kepada Al-Khaliq). Melainkan proses kebudayaan yang dituangkan pada kemasan baru tanpa membuang nilai lama. Dalam relasi ini Muludan dapat disebut sebagai postmodernisme.

Kerinduan wong Cerbon yang mukim di luar Cirebon atas peristiwa Muludan pada umumnya karena terseret kembali ke masa kecil. Masa ketika di tahun-tahun mereka tinggal di Cirebon, bersama teman-teman kecilnya berjalan kaki atau naik becak datang ke Muludan. Menikmati hiburan seperti ombak banyu, korsel, komidi putar dan sebagainya. Juga beragam tontonan yang menegangkan, misalnya tong setan, potong leher dan lain-lain. Kerinduan atas peristiwa ini pun boleh dinamakan peristiwa budaya, sedikitnya bagi para pelaku. Kerinduan ini pun substansinya terfokus pada 12 Rabi`ul Awal, tanggal kelahiran orang suci yang mengubah jarum jam dunia dan peradaban manusia.

Muludan di tiga keraton Cirebon terpaut dengan banyak hal yang di dalamnya memungkinkan timbulnya interaksi antarmanusia. Dari sini budaya lahir. Muludan dengan sendirinya merupakan  sajian yang telah dihidangkan. Kita menikmatinya, menambahnya dengan menu baru, namun tetap berpegang pada ajaran agama Islam. Meminjam ujaran seorang kawan, “Orang Cirebon seharusnya memelihara ritual budaya dan situs yang ada, karena di tempat lain di Indonesia banyak orang membuat/ menciptakan situs, lalu dipublikasi seolah-olah bersejarah.”***

Selasa, 15 Januari 2013

Puisi Cerbonan Dadang Kusnandar



Sadi (1)

Ketek cilik numpak speda kayu
gamelan ala kadare muni kelang temen
ketek cilik langak longok mbebeda boca
dina kuwen, rebo esuk air rongewu rolas
Sadi nglamun bari grundel, “Laka sing peduli maran sira maning Min!”
padahal weteng kudu tetep diisi, ongkos sekola anak terus ngudag
rabi mencu lantaran duwit mung bisa tuku setenga kilo beras

la kadala………..Min…..Paimin
sira wis limang taun melu isun tapi durung ngrasa nang urip seneng
hampura isun, Min

Paimin ora weruh yen majikane lagi nlangsa
Ketek cilik iku malah asik ngaca bari pepaes pinggir dalan
Paimin jengkelitan wayah boca-boca
sing pada ngrubung nepluk nang duwit receh mangatus perak

Cirebon, 2012

Sadi (2)

Udan angin kapan marie`
Paimin kempong kula kempong
Beras sisa setaker kobokan cilik
Udud mung sebatang
Klambi durung ganti telung taun
“Pan mendi maning Gusti kula golet rejeki?”

Urip wong cilik apa memang kudu ngresula?
Mang Sadi kepikiran abote urip
Abote luru pangan lan sandang

Cirebon, 2012


Ada kesalahan di dalam gadget ini